Sarjana Sejarah Islam dan Tantangan Digital

UINSA—Mungkinkah di masa mendatang Tugas Akhir (TA) mahasiswa berupa film, animasi, komik 3D atau karya-karya kreatif yang berbasis digital? Apakah kelak seorang sarjana sejarah dapat diperhitungkan komptensi dan reputasinya, misalnya, sebagai penulis skenario sebuah film sejarah atau konsultan ahli dari sebuah projek animasi yang mengambil latar di masa silam? Intinya, tidak lagi berjibaku sebagai pengajar, peneliti, dan arsiparis yang secara konvensional menjadi tulang punggung lulusan ilmu sejarah. Belum lagi langgam sejarah peradaban Islam yang tampak didekte oleh wacana luar dan tantangan revolusi industri 4.0 adalah realita yang tidak bisa ditolak para akademisi sejarah.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan gagasan dasar dari penyelenggaraan workshop bertajuk ”Penulisan Skenario dan Pembuatan Film Dokumenter” yang diselenggarakan oleh Jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel Surabaya, Jumat (29/11) di Aula Utama Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Dalam sambutannya Wakil Dekan III Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Nasaruddin, mengingatkan Mahasiswa SPI UIN Sunan Ampel Surabaya tentang pentingnya sejarah. “Kita diperintahkan (oleh Allah, red.) untuk melihat (mempelajari) masa silam demi mempersiapkan masa depan,” sebutnya dengan mengutip sebuah penggalan ayat Alquran. Beliau menambahkan, bahwa yang tak kalah penting dalam transformasi dan distribusi sejarah justru mediumnya. Mushaf Alquran, misalnya, merupakan terobosan yang visioner terkait medium dari semula berupa teks lisan menjadi tulisan. Dengan gagasan transformatif tersebut jamak umat Islam pada hari ini bisa membaca, menikmati, bahkan mempelajari Alquran. Artinya perubahan wahana sangat menentukan penetrasi sebuah teks bisa menyapa publiknya.

Hari ini disebut-sebut sebagai era digital. Idiom-idiom yang muncul terkait era yang disebut sebagai revolusi industry 4.0 adalah big data, kecerdasan artifisial, konektivitas, kolaborasi dan sebagainya. Maka kepala Jurusan SPI, Khodafi M.Si., dalam sembutannya menegaskan peranan penting dari dokumen digital, termasuk dokumen kesejarahan. Sarjana sejarah hari ini harus berani menjungkirbalikkan paradigma lama terkait medium dalam disiplin sejarah, dari representasi hasil kajian/penelitian sejarah berupa wujud tertulis menjadi wujud visual. Artinya, gagasan visualisasi tersebut guna menciptakan kecairan antara dunia akademik dengan masyarakat.

Helatan tersebut dibagi dalam dua sesi, pertama penulisan skenario film dokumenter. Mashuri, M.A., yang dikenal sebagai sastrawan sekaligus peneliti di Balai Bahasa Jawa Timur menjadi narasumber. Dengan keterampilannya sebagai penulis dan peneliti sekaligus, pemenang lomba Novel DKJ 2006 ini berbagi pengalaman serta strategi dalam proses penulisan skenario film dokumenter . Sedangkan pada sesi kedua, eksplorasi workshop terfokus pada pembuatan film dokumenter. Dalam hal ini, Dr. Dedi Sulaeman bertindak sebagai pemateri. Dosen di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini lebih mengeksplorasi segi teknis pembuatan film dokumenter. Dalam masing-masing sesi pemateri memberikan kuliah serta dilanjutkan praktik penulisan skenario dan pembuatan film dokumenter.

Workshop ini diikuti oleh mahasiswa SPI, yang sebagian besar sudah semester 7. Desain ini sengaja dilakukan pihak jurusan untuk para calon cendikia sejarah Islam yang andal. Acara dimulai pukul 08.00 dan berakhir pada pukul 16.00. Di akhir acara seorang peserta sempat memberikan kejutan kepada Kepala Jurusan SPI, Khodafi, M.Si., yang tengah merayakan ulang tahun ke-47.*