Interpreting Overview (Pelatihan Interpreting bagi Mahasiswa)

Sebagian orang berpendapat bahwa proses penerjemahan dari suatu bahasa ke bahasa lain – beserta budaya di dalamnya – hanyalah berputar pada terjemahan tulis. Penerjemahan tersebut menjadi jembatan informasi dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Kenyataannya, penerjemahan itu bisa dilakukan secara lisan.

Penerjemahan secara lisan tersebut biasa disebut penjuru bahasa dan pelakunya disebut juru bahasa. Mereka pun punya perhimpunan bernama Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) di beberapa provinsi. Untuk mengetahui seluk-beluk penjuru bahasa inilah Program Studi Sastra Inggris, Jurusan Bahasa dan Sastra, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) mengadakan pelatihan bertema Pelatihan Interpreting bagi Mahasiswa.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu tanggal 11 Maret 2020 di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut dihadiri oleh Dekan FAH yaitu Dr. H. Agus Aditoni, M.Ag.. Beliau memberi sambutan pada momen pembukaan acara sekaligus membuka acara tersebut secara resmi di hadapan para peserta pelatihan. Seremoni pembukaan itu pun ditutup dengan pembacaan doa oleh Yoyok Rimbawan, M.Ag. agar rangkaian seluruh kegiatan pada waktu itu dapat berjalan dengan baik dan sukses.

Tak lupa pula kedua narasumber ahli didatangkan oleh Prodi Sastra Inggris untuk memberi wawasan sekaligus pelatihan komprehensif mengenai dunia penjuru bahasa di Indonesia. Mereka adalah Kenia Alit Saptiti, M.Hum. dengan materi Interpreting Overviews dan Fajar Perdana, A.Md. dengan materi Interpreting in Practices. Ibu Kenia adalah salah satu anggota HPI Jawa Timur sedangkan Bapak Fajar adalah salah satu anggota HPI Jawa Barat.

Pada sesi pertama, Ibu Kenia memberi pengertian dan wawasan kepada hadirin mengenai interpreting. Beliau menjelaskan bahwa penerjemah (translator) biasa dipakai untuk profesi di mana objeknya ialah bahasa tulis sedangkan juru bahasa (interpreter) biasa dipakai untuk profesi di mana objeknya ialah bahasa lisan. Tujuan utama interpreting ialah agar pesan dari bahasa sumber (orang) dapat sampai ke bahasa sasaran (orang) secara langsung di mana keduanya hanya paham bahasa milik mereka sendiri sehingga interpreter bertugas sebagai jembatan untuk mereka. Contohnya, seorang juru bahasa mendengar bahasa Rusia dari bahasa sumber lalu dia menerjemahkannya ke bahasa Indonesia secara langsung.

Seorang interpreter dituntut untuk memiliki sertifikat penerjemah. Sertifikat penerjemahan Indonesia-Inggris tidak serta merta dianggap mampu menerjemahkan bahasa Inggris ke Indonesia. Dia harus memunyai dua sertifikat yaitu Indonesia ke Inggris juga Inggris ke Indonesia. Keuntungan dari sertifikat tersebut ialah legitimasi bahwa mereka bagian dari ahli penerjemah sehingga mereka terpercaya dan juga dapat menikmati suasana negara-negara lain sebagai konsekuensi dari profesi tersebut. Beliau mencontohkan bahwa dari profesi tersebut beliau dapat pergi ke Hongkong, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Peserta pada acara tersebut juga menanyakan banyak hal kepada perempuan kelahiran Kota Surabaya tersebut terkait interpreting seperti cara mengatasi salah tafsir saat menerjemahkan, cara mengambil poin-poin penting dari bahasa sumber, dan ada pula pertanyaan tentang tantangan kecerdasan buatan pada masa 10 tahun ke depan dalam hal penerjemahan melalui mesin digital.

Pada sesi kedua, Bapak Fajar lebih banyak memfokuskan diri untuk melatih mahasiswa dan mahasiswi secara langsung mengenai penjuru bahasa. Mereka diajari menjadi juru bahasa bak ahli interpreter. Pada bagian pertama, beliau mengajari consecutive interpreting, yaitu interpreting menggunakan kertas dan pena atau pensil. Juru bahasa mencatat semua informasi dari bahasa sumber terlebih dahulu kemudian dari catatan tersebut juru bahasa menyampaikan informasi menggunakan bahasa sasaran.

Pada bagian kedua, laki-laki kelahiran Bandung itu mempraktikkan simultaneous interpreting di mana pada kesempatan itu dibutuhkan alat komunikasi berupa headset dan mikrofon. Seorang berbicara dalam bahasa Inggris menggunakan mikrofon lalu suara tersebut didengar oleh juru bahasa melalui headset. Pada saat bersamaan, juru bahasa tersebut kemudian berbicara menggunakan bahasa Indonesia melalui mikrofon sehingga para audiensi mendengar pesan dari bahasa sumber (bahasa Inggris). Kegiatan mendengar sekaligus berbicara ini dilakukan secara serentak jadi konsentrasi seorang juru bahasa sangat dibutuhkan di sini.

Salah satu interpreter pertemuan IMF-World Bank di Bali ini pun memberikan beberapa kendala saat melakukan interpreting seperti ketidakjelasan atau ketidakmengertian suatu ucapan dari bahasa sumber, perbedaan banyaknya kata dan suku kata antara Inggris dengan Indonesia, serta macam-macam aksen dan dialek milik orang-orang dari negara lain di mana seorang interpreter mesti mengetahui hal tersebut.

Presensi mahasiswa dan mahasiswi Prodi Sastra Inggris semester 2, 4, dan 6 ini pun berakhir pada sore hari di mana seluruh rangkaian acara telah dilaksanakan. Dr. Wahju Kusumajanti, M.Hum. selaku ketua pelaksana sekaligus Ketua Prodi Sastra Inggris ini pun patut berbahagia dan berbangga lantaran acara tersebut berjalan sukses. Acara tersebut dipungkasi dengan penyerahan kenang-kenangan dari Prodi Sastra Inggris oleh Ibu Wahju kepada kedua narasumber.

Tak lupa pula Suhandoko, M.Pd. – dosen muda Prodi Sastra Inggris sekaligus moderator – mengucapkan terima kasih kepada para peserta dan narasumber di mana kedua unsur tersebut ialah unsur-unsur determinan untuk kesuksesan pada acara di lantai 3 gedung tersebut.

***